Jumat, 24 Juni 2022
Advertisment
BerandaLiputanBudayaSejarah Vihara Buddhagaya Semarang

Sejarah Vihara Buddhagaya Semarang

Vihara Buddhagaya Watoagong (disingkat : Vihara Buddhagaya) merupakan salah satu tempat ibadah umat Buddha yang terletak di daerah Pudakpayung, Kecamatan  Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah. Lokasi tepatnya berada di depan Markas Kodam IV/Diponegoro.

Komplek vihara ini terdiri dari dua bangunan induk utama, yaitu Pagoda Avalokitesvara yang memiliki nilai artistik tinggi dengan ketinggian mencapai 45 meter dan ditetapkan sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Di dalamnya terdapat patung Dewi Kwan Im dengan tinggi 5 meter. Kemudian ada Dhammasala yang terdiri dari dua lantai yang mana lantai dasar digunakan sebagai ruang aula serbaguna untuk kegiatan pertemuan dan lantai atas digunakan sebagai ritual upacara keagamaan.

Dihimpun dari Wikipedia, Rabu (17/11/2021), sejarah keberadaan vihara ini bermula dari masa 500 tahun setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit. Saat itu,  munculah berbagai kegiatan dan peristiwa yang menyadarkan kalangan penduduk akan warisan luhur nenek moyang, yaitu Buddha Dhamma agar dapat kembali dipraktekkan oleh umat Buddha, meskipun sudah banyak mayoritas warga memeluk agama Islam.

Upaya ini banyak digagas pada zaman pemerintahan Hindia Belanda hingga akhirnya harapan akan ada orang yang mampu mengajarkan Buddha Dhamma terwujud dengan kehadiran Bhiku Narada Maha Thera dari Srilanka pada 1934. Kehadiran Dharmadutta tersebut dimanfaatkan oleh umat dan simpatisan untuk mengembangkan diskusi dan memohon penjabaran Dhamma secara lebih luas lagi.

Puncaknya, muncul putra pertama Indonesia yang mengabdikan diri secara penuh pada penyebaran Buddha Dharma, yakni pemuda asal Bogor bernama The Boan An yang kemudian menjadi Bhikku Ashin Jhinarakhita. Pada 1955, Bhikku Ashin Jinarakkhita memimpin perayaan Vaisak 2549 di Candi Borobudur dan saat itu bertemu dengan hartawan yang menjadi tuan tanah Semarang, bernama Goei Thwan Ling  yang berlatarbelakang Buddha dan terkesan dengan kepiawaian dan kepribadian dari sang Bhikku.

Singkatnya, sang hartawan mempersembahkan sebagian tanah miliknya untuk digunakan sebagai pusat dan pengembangan Buddha Dhamma yang kemudian diberi nama Vihara Buddhagaya. Pada 19 Oktober 1955, didirikanlah Yayasan Buddhagaya untuk menaungi aktivitas vihara dan dari vihara inilah kemudian satu episode baru pengembangan Buddha Dhamma berlanjut.

Sementara itu, dilansir dari sebuah literasi yang diterbatkan oleh Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Vihara Buddhagaya ini beridiri di atas lahan seluas 2,3 hektar (Ha) dan peresmian vihara ini dilakukan secara bertahap, mulai dari bangunan utama sampai bangunan pendukung fasilitas lainnya. Yang jelas, Pagoda Avalokitesvara atau yang lebih dikenal dengan Pagoda Kwan Im dibangun pada 2004 dan diresmikan pada 14 Juli 2005, tetapi ada bangunan utama lain yang lebih dahulu dibangun, yaitu Dhammasala yang dibangun sekitar tahun 2002.

Pada mulanya, vihara ini hanya diperuntukan sebagai tempat ibadah, namun dengan melihat arsitektur bangunan yang sangat kental dengan nuansa Tiongkok dan Thailand, maka potensi vihara ini dikembangkan menjadi destinasi wisata bertakjuk religi yang dapat diandalkan dan dikembangkan lebih lagi.

Vihara ini buka dari jam 07.00 WIB hingga jam 21.00 WIB. Untuk tiket masuk, pengunjung bisa memberikan uang seikhlasnya sebagai bentuk mendukung pelestarian wisata religi yang indah ini. Desain bangunan yang kuat dengan nuansa Tiongkok dan Thailand mengundang para milenial untuk berswafoto dengan latar pagoda tertinggi di Indonesia tersebut yang membuat seakan berswafoto di negeri Tiongkok atau Thailand secara nyata.

https://www.solopos.com/sejarah-vihara-buddhagaya-semarang-1197374?utm_source=terkini_desktop

TULISAN TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Terbaru

Komentar Terbaru